Bismillah…
^^dierenz is here^^

“Tidak ada manusia yang sempurna”
Inilah kenyataannya. Tapi pada waktu yang sama, qt diperintahkan untuk sempurna atau minimal mendekati sempurna. Tidak ada yang salah dalam perintah ALLAH ini karna ukuran batas sempurna memang relatif yaitu BATAS MAKSIMUM dari kemampuan individu untuk berkembang.
“ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa) “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”
(QS. Al-Baqarah : 286)
(QS. Al-Baqarah : 286)
Maka, bergerak menuju kesempurnaan adaah bergerak menuju batas maksimum, yaitu semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasa seseorang dari proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al-qur’an disebut “Menjelang putus asa” maka kesempurnaan adalah obsesi yang akan menjadi mesin yang memproduksi tenaga jiwa yang membuat seseorang mampu bergerak konstan menuju titik kesempurnaan. Inilah sumber dinamika yang dimiliki mukmin sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar